“Jangan menunggu pekerja bersuara keras untuk memenuhi sesuatu yang memang sudah menjadi haknya. Karena perusahaan yang baik bukan hanya mampu memenuhi hak, tetapi mampu memahami momentumnya.”
Setiap orang memiliki momentum yang berbeda.
Ada saat-saat tertentu dalam kehidupan ketika sesuatu yang sederhana menjadi sangat berarti. Bukan karena nilainya berubah, tetapi karena kebutuhan pada saat itu sedang memuncak.
Begitu pula bagi seorang pekerja.
Bagi karyawan, realisasi bonus dan kenaikan gaji bukan semata-mata persoalan angka yang masuk ke rekening. Ada momentum di baliknya.
Bulan April hingga Juli, misalnya, bagi banyak keluarga karyawan adalah masa ketika kebutuhan meningkat. Ada biaya pendidikan anak, pembayaran UKT, uang kos, kebutuhan sekolah, biaya kesehatan, kebutuhan rumah tangga, dan berbagai kebutuhan lain yang datang hampir bersamaan.
Bagi perusahaan mungkin itu terlihat sebagai sebuah proses administrasi. Tetapi bagi karyawan, itulah momentum. Ketika hak tersebut direalisasikan pada momentum yang tepat, yang dirasakan bukan sekadar bertambahnya penghasilan.
Ada rasa lega. Ada kebahagiaan. Ada berkurangnya tekanan.
Ada keluarga yang bisa membayar kebutuhan pendidikan anak tanpa harus mencari pinjaman. Ada orang tua yang bisa bekerja dengan pikiran yang lebih tenang.
Ada karyawan yang datang ke tempat kerja tanpa terlalu dibebani oleh pertanyaan:
“Besok kebutuhan anak bagaimana?”
“UKT , SPP sudah harus dibayar, dari mana?”
“Biaya kos bulan ini bagaimana?”
Ketika kebutuhan yang memuncak itu mendapatkan jalan keluarnya, maka yang tumbuh bukan hanya rasa lega bagi karyawan. Kenyamanan bekerja pun meningkat.
Dan ketika pekerja dapat bekerja dengan hati yang lebih tenang, perusahaan juga mendapatkan manfaatnya. Operasional dapat berjalan dengan lebih baik. Pelayanan kepada pasien dapat diberikan dengan lebih nyaman. Konsentrasi dan produktivitas pekerja dapat terjaga. Hubungan industrial menjadi lebih sehat.
Bahkan mungkin ada sesuatu yang tidak pernah tercatat dalam laporan keuangan perusahaan:
Do’a-do’a keberkahan dan kebaikan yang keluar dari mulut para karyawan serta keluarganya untuk perusahaan dan para pemimpinnya.
Karena ketika seorang karyawan merasa haknya diperhatikan pada saat ia benar-benar membutuhkannya, yang lahir bukan hanya kepuasan. Tetapi juga rasa dihargai.
MOMENTUM SEHARUSNYA MENJADI BAGIAN DARI SISTEM
Bagi manajemen, momentum seperti ini seharusnya bukan sesuatu yang baru diketahui setelah karyawanmenyampaikan keresahan. Perusahaan yang sehat semestinya mampu membaca momentum tersebut dan mengelolanya dengan baik.
Tidak perlu menunggu demonstrasi.
Tidak perlu menunggu perundingan bipartit.
Tidak perlu menunggu karyawan berteriak.
Tidak perlu menunggu Serikat karyawan datang meminta penjelasan berulang kali. Tidak perlu harus “digedor-gedor”.
Karena idealnya, pemenuhan hak karyawan yang sudah menjadi kewajiban perusahaan telah menjadi bagian dari sistem.
Ketika sesuatu memang sudah menjadi hak karyawan dan telah memiliki dasar yang jelas, maka realisasinya tidak seharusnya bergantung pada seberapa keras karyawan menyuarakannya.
Hak tidak seharusnya baru terasa ketika dituntut. Hak seharusnya terasa karena memang dipenuhi.
Di situlah sesungguhnya kualitas sebuah sistem hubungan industrial diuji.
HARAPAN
Kemudian ada harapan. Harapan karyawan dan harapan manajemen tentu tidak selalu sama. Karyawan berharap haknya dipenuhi. Manajemen berharap kewajiban perusahaan dapat dijalankan dengan mempertimbangkan kondisi dan keberlangsungan perusahaan.
Karyawan dituntut memenuhi kewajibannya: bekerja, memberikan pelayanan yang baik, menjaga produktivitas, menjaga disiplin, dan memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Pada saat yang sama, karyawan juga berharap perusahaan memenuhi hak-haknya sesuai dengan kesepakatan dan ketentuan yang berlaku.
Di sinilah seharusnya hubungan industrial bekerja. Bukan untuk mempertentangkan kepentingan. Tetapi untuk mempertemukan kepentingan.
Harapan karyawan dan kepentingan perusahaan harus dicari titik temunya. Karena pada akhirnya kita membutuhkan win-win solution.
Perusahaan membutuhkan karyawan yang sehat secara fisik dan mental, bekerja dengan nyaman, produktif, dan memiliki rasa memiliki. Karyawan membutuhkan perusahaan yang sehat, mampu memberikan kepastian, penghargaan, dan kesejahteraan. Keduanya tidak bisa berdiri sendiri.
Tetapi sekali lagi, kita kembali kepada satu hal: momentum.
Karena solusi yang baik bukan hanya tentang apa yang diberikan, tetapi juga kapan diberikan. Sesuatu yang diberikan pada waktu yang tepat dapat memberikan manfaat yang jauh lebih besar.
TIDAK ADA MENANG ATAU KALAH
Dalam hubungan industrial, kita juga perlu meninggalkan cara berpikir bahwa setiap pertemuan harus menghasilkan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Tidak seharusnya seperti itu.
Ketika Serikat menyampaikan aspirasi dan manajemen kemudian memenuhi hak karyawan, bukan berarti manajemen kalah dan Serikat Pekerja menang.*
Sebaliknya, ketika perusahaan menyampaikan keterbatasan dan karyawan memahami serta memberikan ruang bagi perusahaan untuk menyelesaikan prosesnya, bukan berarti karyawan kalah dan manajemen menang.
Tidak ada kasta dalam hubungan industrial. Tidak ada pihak yang lebih tinggi dan tidak ada pihak yang lebih rendah. Yang ada adalah peran, hak, kewajiban, kewenangan, dan tanggung jawab.
Manajemen menjalankan tanggung jawabnya. Karyawan menjalankan kewajibannya. Serikat Pekerja menjalankan mandat anggotanya. Dan semuanya tunduk pada aturan, regulasi, serta kesepakatan yang berlaku. Karena itu, ketika sebuah hak akhirnya direalisasikan setelah diperjuangkan, jangan melihatnya sebagai kemenangan atas seseorang.
Lihatlah sebagai keberhasilan hubungan industrial menemukan jalan keluarnya.
Begitu pula ketika perusahaan membutuhkan waktu untuk menyelesaikan suatu proses, jangan selalu dilihat sebagai kekalahan karyawan. Yang penting adalah apakah proses tersebut memiliki dasar yang jelas, arah yang jelas, komunikasi yang terbuka, dan batas waktu yang dapat dipertanggungjawabkan.
HAK DAN KEWAJIBAN ADALAH KESEIMBANGAN
Dalam dunia kerja, hak dan kewajiban adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Karyawan memiliki kewajiban untuk memberikan tenaga, pikiran, waktu, kompetensi, dan loyalitas dalam menjalankan pekerjaannya.
Perusahaan memiliki kewajiban untuk memberikan hak-hak karyawan sesuai dengan ketentuan dan kesepakatan yang berlaku. Itulah keseimbangan. Itulah hubungan industrial.
Dan dalam kehidupan, keseimbangan itu bukan sesuatu yang perlu dipertentangkan.
Pemenuhan hak bukan hadiah. Pelaksanaan kewajiban bukan pengorbanan.
Keduanya adalah bagian dari tatanan yang memang seharusnya berjalan. Mungkin inilah yang dapat kita sebut sebagai sunatullah dalam dunia kerja:
Ada hak. Ada kewajiban. Ada tanggung jawab. Ada kepercayaan.
Dan semuanya harus ditempatkan pada porsinya.
PADA AKHIRNYA, YANG KITA CARI ADALAH KEBERKAHAN
Perjuangan karyawan pada akhirnya bukan hanya tentang berapa rupiah yang diterima. Dan keberhasilan perusahaan bukan hanya tentang berapa besar angka EBITDA yang tercapai.
Di balik angka-angka itu ada manusia. Ada keluarga. Ada anak-anak yang membutuhkan biaya pendidikan. Ada orang tua yang harus dirawat. Ada kebutuhan rumah tangga. Ada impian dan harapan.
Dan di balik setiap karyawan yang datang setiap hari ke rumah sakit, ada kehidupan yang harus terus berjalan. Karena itu, ketika hak karyawan dipenuhi pada momentum yang tepat, manfaatnya tidak berhenti di rekening karyawan.
Ia mengalir ke keluarga. Dari keluarga, tumbuh ketenangan. Dari ketenangan, lahir kenyamanan bekerja. Dari kenyamanan bekerja, lahir pelayanan yang lebih baik. Dari pelayanan yang lebih baik, perusahaan tumbuh. Dan dari perusahaan yang tumbuh, kesejahteraan dapat kembali dirasakan bersama.
Begitulah seharusnya sebuah siklus yang sehat.
Bukan karyawan melawan perusahaan. Bukan perusahaan melawan karyawan. Bukan siapa menang dan siapa kalah.
Tetapi hak dipenuhi, kewajiban dijalankan, momentum dijaga, hubungan industrial dirawat, dan keberkahan mengalir untuk semua.
Karena pada akhirnya, kita semua berada di kapal yang sama.
Perusahaan membutuhkan karyawan. Karyawan membutuhkan perusahaan.*
Maka mari kita jaga agar kapal ini tidak hanya terus berjalan, tetapi berjalan dengan arah yang benar, waktu yang tepat, hati yang tenang, dan keberkahan untuk semua.
“Momentum bukan sekadar tentang kapan sesuatu diberikan. Momentum adalah ketika sebuah hak hadir tepat saat seseorang paling membutuhkannya.”
